Perjalanan Menjejaki Kaki di Gunung Rinjani
Gunung Rinjani, Atap Nusa Tenggara Barat

Foto: Heriy Rozzani
Sebelum Letter E Puncak Rinjani

Sebelum Letter E Puncak Rinjani
"Sempat pesimis, namun semangat kembali setelah melihat senyum Edelweis" - Heriy Rozzani
"Sempat pesimis, namun semangat kembali setelah melihat senyum Edelweis" - Heriy Rozzani
Ketika kekuatan pikiran melampaui lelahnya badan. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa. Terimakasih untuk kedua orang tua, kawan sejalan, serta segala hal-hal baik yang membersamainya. Agustus 2021, untuk pertama kalinya, akhirnya Saya dapat mewujudkan salah satu mimpi untuk menjejaki kaki di puncak tertinggi Pulau Lombok, Gunung Rinjani 3726 MDPL.
Berbeda jauh dengan jatuh hati padamu, perjalanan ini jauh lebih sulit. Ada doa yang terpanjatkan dan usaha yang dikeluarkan. Ada banyak harapan yang diucapkan dan banyak ekpektasi juga terpatahkan. Ada hati yang lapang menerima serta ada ego yang seharusnya tidak dibawa.
Menerima apa adanya, membiarkan apa yang tidak semestinya. Jika perjalanan adalah tentang memaknai kehidupan, maka menikmati perjalanan itu sendiri adalah sebuah perayaan bukan? Karena bagi saya, gunung memang selalu memberikan rasa tenang yang sukar dijelaskan. Cukup hanya dengan duduk dan ngopi sambil merokok sebatang untuk menikmati waktu yang pasti tidak akan kembali datang.
![]() |
| Foto: Heriy & Iyan Pelawangan Rinjani via Sembalun |
Untuk pertama kalinya menjejaki jalan perjuangan ini, dimana banyak keluhan tersemat setiap tanjakan. Banyak hal masih jauh dari kematangan, melenceng dari perencanaan, tak sesuai dengan perhitungan. Seringkali juga menemui sesuatu diluar dugaan, mendapatkan apa yang tidak ada diperkotaan. Berbeda dengan di kota, di sini kita bisa menikmati matahari terbenam. Karena di kota matahari tidak tebenam, melainkan ditelan bagunan-bangunan.
Sampai pada suatu titik banyak hal dalam diri yang perlu diintrospeksi, tentunya agar tidak terlampau ambisi serta dikecewakan ekspektasi. Saya temukan pula beberapa jawaban dari sekian pertanyaan yang muncul sebagai pengganggu tidur kala malam tiba. Bahwa esensi dari perjalanan, sejatinya adalah proses dan hal yang selalu terlupa ketika berada di kota yakni sabar dan syukur.
![]() |
| Foto: Heriy Rozzani Pos 4 Rinjani via Sembalun |
Terkadang memang benar pribahasa orang, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” Dapat lelahnya dulu, dapat yang lebih lelah kemudian. Hehe tentu tidak, dapat senanglah kemudian.
Meskipun kesini baru pertama kali, sepertinya ketika di rumah akan terus ku ceritakan berkali-kali. Begitulah memang, sesuatu yang berbekas dihati tidak lekas hilang dan pergi. Menjadi pencapaian yang akan kekal diingatan dan tetap manis dalam kenangan. Pada akhirnya, makna lain perjalanan selain tujuan, tentunya adalah pulang kembali ke kediaman.
![]() |
| Foto: Heriy Rozzani |
"Ternyata ada yang lebih lebih lelah daripada mendapatkan hatimu, Dik. Yaitu menurunkan ego diri"



Komentar
Posting Komentar